Waspada, Megapixel dan Interpolasi

Apa boleh buat? Megapixel seolah-olah sudah menjadi mantra sakti yang dipercaya oleh banyak pihak, untuk menyatakan kamera di ponsel berkategori bagus. Pedagang yang hanya memiliki pengetahuan teknis terbatas, juga memilih cara mudah dan cepat itu, dengan menggantungkan kualitas kamera pada ukuran megapixel-nya. Bukan memberi informasi yang tepat, vendor ponsel juga seolah-olah ikut membenarkan dengan mengikuti perlombaan megapixel untuk kameranya.

Angka Megapixel Bukan Penentu!

xiaomi-redmi-note-7-pro-review-with-pros-and-cons-31

Secara umum, makin besar angka megapixel (MP) sebuah kamera, kualitasnya dianggap akan makin baik. Tapi sebenarnya angka MP ini bukanlah hal yang mutlak yang menentukan bagus tidaknya foto. Faktanya ada faktor lain yang menentukan kualitas gambar yaitu sensor dan lensa yang digunakan. Selain itu, firmware pengolah hasil jepretan kamera juga sangat menentukan hasilnya.

Lalu apakah pixel itu? Istilah pixel dipakai untuk menjelaskan resolusi foto digital. Angka 1 pixel adalah angka unit terkecil dari sebuah foto. Yang bisa diibaratkan sebuah titik saja. Untuk contoh foto beresolusi 1MP, berarti terdiri dari 1.048.576 pixel. Secara teoritis angka megapixel yang tinggi dapat menghasilkan kualitas yang bagus.

Ukuran fisik sensor juga berpengaruh pada kualitas foto yang dihasilkan. Makin  besar tentu makin bagus, karena makin bnayak cahaya  yang diserap masuk untuk diproses menjadi sebuah foto. Terakhir adalah kualitas Lensa. Untuk mengurangi harga, seringkali kualitas lensa dikurangi, bahkan banyak yang memakai lensa plastik seadanya. Pemakaian lensa professional seperti Carl Zeiss tentu bisa memberikan hasil foto lebih baik.

Meskipun sebuah kamera digital memilliki jumlah sensor yang banyak (hingga megapixel), namun yang lebih diperhatikan adalah jumlah sensor image efektif. Sensor pada kamera ponsel bertugas menangkap cahaya. Akibat kecilnya tempat sebuah ponsel, maka semua sensor tidak sepenuhnya dipakai untuk menghasilkan gambar yang ditangkap.

Lalu untuk apa? Ternyata dipakai untuk pixel pembatas juga penyesuaian white balance. Maka perlu diperhatikan jumlah pixel penghasil gambar, atau sering dikenal dengan istilah efective pixel. Inilah jumlah pixel pada gambar yang dihasilkan kamera. Meski tak  banyak, ada beberapa produsen yang mengakui jumlah pixel efektifnya. Contohnya Nokia PureView yang beresolusi 41 MP, pixel efektifnya 38 MP.

Waspadai Interpolasi

Karena begitu saktinya angka megapixel ini, membuat semua pihak terbawa arus untuk menjadikannya patokan dalam kualitas kamera ponsel. Bagi vendor global tak sulit mengikuti trend dan perang ukuran megapixel. Tapi bagi vendor lokal, banyak yang kesulitan karena merek  lokal terbentur anggapan bahwa harganya harus rendah.

Maka, vendor merek lokal yang banyak ‘mengakali’ besarnya ukuran megapixel. Misalnya, meski ukuran megapixel sebenarnya hanya 3MP, tapi mereka mendongkraknya menjadi 5 MP. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan interpolasi. Dengan interpolasi ukuran megapixel menjadi besar, dan diharapkan calon konsumen menaggap kameranya lebih bagus.

Secara singkat interpolasi adalah menaikkan jumlah pixel. Interpolasi adalah proses pengolahan gambar secara digital untuk menghasilkan gambar yang ukurannya lebih besar dari pada yang diambil oleh sensor kamera. Caranya adalah dengan mengisi celah-celah di antara titik  (pixel) yang membentuk sebuah foto. Diisi dengan apa? Informasi di sekitar titik dimasukkan, seperti warna, kecerahan, dan sebagainya.

Kelemahan proses interpolasi ini adalah foto yang dihasilkan tidak akan sejernih aslinya. Kalau dilihat pada actual pixel dengan detil foto yang juga berkurang. Ciri-ciri foto yang diinterpolasi bisa dilihat di komputer dan di perbesar. Biasanya ujung-ujung dari objek foto menjadi patah-patah. Foto interpolasi tidak pernah bisa sedetil gambar asli jepretan kamera. Kalaupun bisa mempertajam hanya bisa di bagian tertentu saja.